Beranda > Perspektif Global > Child Traffiking

Child Traffiking

Child Traffiking

Child Traffiking

child trafficking adalah penggunaan anak yang dilibatkan dalam  eksploitasi ekonomi maupun seksual dan lain-lain oleh orang dewasa atau pihak ketiga untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk uang maupun bentuk yang lain

Anak-anak merupakan generasi bangsa yang akan datang, kehidupan anak-anak merupakan cermin kehidupan bangsa dan negara. Kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan keceriaan merupakan cermin suatu negara memberikan jaminan kepada anak-anak untuk dapat hidup berkembang sesuai dengan dunia anak-anak itu sendiri,  sedangkan kehidupan anak-anak yang diwarnai dengan rasa ketakutan, traumatik, sehingga tidak dapat mengembangkan psiko-sosial anak, merupakan cermin suatu negara yang tidak peduli pada anak-anak sebagai generasi bangsa yang akan datang.

Disisi lain masa anak-anak merupakan masa yang sangat menentukan untuk terbentuknya kepribadian seseorang. meski Indonesia telah meratifikasi Konvensi PBB tentang Hak Anak dan telah mengeluarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, secara obyektif yang terjadi di kehidupan anak-anak adalah masih belum teratasinya masalah anak yang terjadi di Indonesia, khususnya lagi kasus child trafficking yang semakin tidak bisa ditolerir dengan akal sehat (the most intolerable forms).

Dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang menjelaskan child trafficking adalah terdapat pada Pasal 59, Pasal 68. dan yang mengatur tentang sanksi pidananya adalah Pasal 78, Pasal 83. dari hal itu semua pada dasarnya Pemerintah telah memperkuat instrumen hukum tentang child trafficking, seperti KILO 182, CRC, Optional Protocol of CRC on sale of Children, Child Prostitution, and Child Pornography – namun hal tersebut hingga saat ini isu child trafficking masih belum memperoleh intervensi yang signifikan.

Pada dasarnya child trafficking adalah penggunaan anak yang dilibatkan dalam  eksploitasi ekonomi maupun seksual dan lain-lain oleh orang dewasa atau pihak ketiga untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk uang maupun bentuk yang lain. Dalam kaitannya dengan anak, elemen “consent” (kerelaan atau persetujuan) tidak diperhitungkan, karena anak tidak memiliki kapasitas legal untuk bias memberikan (atau menerima) informed consent. Setiap anak, karena umumnya harus dianggap tidak mampu memberikan persetujuan secara sadar terhadap berbagai hal yang dianggap membutuhkan kematangan fisk, mental, sosial, dan moral bagi seseorang untuk bias menentukan pilihannya, oleh karenanya anak adalah korban (victim) dan bukan pelaku kejahatan (criminal actor).

Ada beberapa criteria anak yang beresiko child trafficking, antara lain:
1. Anak yang secara sosial – ekonomi berasal dari keluarga miskin kelompok marginal, baik yang tinggal di pedesaan dan didaerah kumuh perkotaan.
2. Anak putus sekolah
3. Anak korban kekerasan dan perkosaan
4. Anak jalanan,
5. Anak pecandu narkoba
6. Anak yatim
7. Pengemis/peminta-minta
8. Anak korban penculikan
9. Anak korban bencana alam
10. Anak yang berasal dari daerah konflik

Fakta dan Data
Dalam data yang diungkap, sejumlah 150 juta orang diperdagangkan dengan  mengalirkan sekitar 7 miliar dolar per-tahun. Di Indonesia, perempuan dan anak-anak yang diperdagangkan sekitar 700.000 s/d 1.000.000 orang. Pada tahun 1999, tercatat anak dan perempuan yang diperdagangkan mencapai sekitar 1.718 kasus. Angka ini, pada tahun 2000, tercatat sejumlah 1.683 kasus, dengan berbagai lokasi yang terdeteksi, seperti Jakarta, Medan, bandung, Padang, Surabaya, Bali dan Makasar. Berdasarkan laporan investigasi kalangan NGO di Medan, diungkapkan kasus perdagangan anak yang akan dilacurkan (Child Prostituted) di Dumai, propinsi Riau (Data PBB yang dimuat di harian media Indonesia, 26 februari 2003, hal 10).
Pada laporan Poltabes Balerang, kasus perdagangan perempuan dan anak yang masuk ke Poltabes balerang pada tahun 2003, terdapat 84 kasus dan dapat diselesaikan sebanyak 65 kasus atau 77,38%. Sedangkan pada tahun 2004 sampai bulan mei, terdapat 57 kasus.
Sedangkan kondisi Ekploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) di Lingkungan  Pariwisata Indonesia sangatlah memprihatinkan, ini dapat dilihat dengan indicator besaran yang dikeluarkan dalam kertas kerja the Government of The Republic of Indonesia yang disampaikan pada Konfrensi ESKA II tahun 2001 di Yokohama Jepang, bahwa sekitar 30% atau 40.000 s/d 70.000 Pekerja Seksual Komersial adalah anak dibawah umur. Ini mengindikasikan bahwa kehidupan anak di Indonesia sangat rentan dengan ESKA, apalagi anak-anak yang hidup di lingkungan keluarga miskin, anak terlantar, buruh anak, anak jalanan, maupun anak korban kekerasan, dan lain-lain. Hal ini dikarenakan anak dalam situasi demikian merupakan seorang korban dari “mekanisme” berbangsa yang menciptakan kemiskinan, ketidakadilan, pelanggaran hukum  yang didisain dan dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak.

Melawan Child Trafficking
Banyak hal yang harus dilakukan didalam memerangi atau mencegah child trafficking, antara lain:
1. Terus menerus melakukan kampanye guna membangun kesadaran permanan dikalangan masyarakat maupun sector industri, juga komitmen pemerintah dan penegak hukum guna mendukung perlindungan anak dari child trafficking.
2. Mewujudkan mekanisme kerjasama dan aksi dalam segenap institusi masyarakat dan lembaga-lembaga usaha yang bisa bersinergi untuk memberikan perlindungan anak dari child trafficking.
3. Tersedianya mekanisme nasional dan daerah – antara lain dengan cara bersinergi dalam bentuk task force (kelompok kerja) yang bisa langsung bekerja di lapangan secara komprehensif dan terus menerus didalam memberikan perhatian dan penanganan perlindungan anak dari child trafficking.
4. Perlunya dikeluarkan produk hukum anti trafficking yang pro perlindungan anak dari dari tindak pidana perdagangan anak dan bertujuan untuk perlindungan hukum bagi anak korban child trafficking.

Penutup

Hak Anak

Hak Anak

Melindungi anak hari ini, adalah investasi bagi masa depan bangsa. Selain alasan itu, kepemihakan pada anak sudah menjadi esensi kemanusiaan itu sendiri. Karenanya, tindakan paradoks yang mengeksploitasi anak, secara ekonomi maupun seksual – berada di luar konteks kemanusiaan yang hakiki.
Oleh karenanya Komisi Nasional Perlindungan Anak selalu mendukung langkah-langkah yang diambil pemerintah dan semua pihak yang mempunyai kepedulian dalam mendukung perlindungan anak dari child trafficking (perdagangan anak).
Hal ini berarti kita semua telah menciptakan keberlangsungan generasi bangsa dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di masa datang.

  1. Amelia Dhika A
    29 Maret 2011 pukul 11:16

    Perdagangan anak terjadi karena kesalahan orang tua dan rendahnya pendidikan orang tua serta kurangnya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

  2. endahkusumawardani
    30 Maret 2011 pukul 08:49

    child trafiking biasanya dilatarbelakangi faktor ekonomi yang lemah.. shg para org tua sering menelantarkan anak2 mrk bhkan tega menjual demi uang..
    Semoga para orang tua lebih memperhatikan dan bertangung jawab atas nasib anak2 mereka..
    Disamping itu pemerintah harus memperhatikan dan berkewajiban menanggulangi masalah itu krn UUD mengamanatkan kalo anak terlantar dan fakir miskin merupakan tanggungan negara..

  3. 31 Maret 2011 pukul 04:45

    tima kasih Bu materi’y🙂

  4. 31 Maret 2011 pukul 04:49

    assalamualaikum wr.,wb.,
    semoga pemerintah dan masyarakat turut membantu melindungi anak-anak sehingga tidak akan terjadi child trafficking. Terimakasih…

  5. 2 April 2011 pukul 11:37

    judul tulisan.. kayaknya kurang huruf “c” deh bu….😀

  6. vinna mama melody
    22 April 2011 pukul 08:24

    wah, banyak sekali faktor penyebab child trafficking, mungkin karena anak hasil perbuatan terlarang, kemiskinan, kesenjangan ekonomi, namun lagi-lagi pada akhirnya apapun latar belakangnya namun semua akan bermuara pada faktor ekonomi, jadi deh anak dikomersiilkan.

  7. Dwi haryani
    11 Mei 2011 pukul 04:13

    terima kasih bu atas materinya

  8. Noviani N
    11 Mei 2011 pukul 04:15

    terima kasih bu untuk meterinya…

  9. mamik setiasih
    11 Mei 2011 pukul 04:58

    Nggeh bu,,,

  10. esti hastuti
    11 Mei 2011 pukul 05:01

    Semoga pemerintah menindak lanjuti keadaan yang sekarang ini terjadi dan masyarakat nantinya bisa hidup sejahtera…

  11. Qomarinah
    11 Mei 2011 pukul 06:37

    Faktor utama terjadinya child trafficking adalah orang tua, karena itu pemerintah perlu meningkatkan upaya untuk meningkatkan kesadaran orang tua tentang akibat child trafficking bagi anak, walau saya yakin di hati semua orang tua sesungguhnya pasti tidak akan tega mengeksploitasi anaknya sendiri…

  12. Dhimas Hardhiana Dwi Putra
    12 Mei 2011 pukul 05:30

    Terimakasih banyak ya Bu Untuk materi’y🙂
    materi Ibu bermanfaat untuk saya,

  13. Anggit
    12 Mei 2011 pukul 11:25

    terimakasih Bu, kalau menurut pak Kadari, anak-anak yang menjadi korban Child traffiking termasuk ABK, Bu…

  14. Supriyanto
    12 Mei 2011 pukul 23:29

    semoga di Indonesia tidak ada lagi child trafiking,,

  15. Ika Dewi P
    13 Mei 2011 pukul 06:37

    Terima kasih ibu atas materinya ya…

  16. Dyah Prihastuti
    14 Mei 2011 pukul 02:41

    terimakasih buk materinya,

  17. 7 Juni 2011 pukul 04:41

    Menanggapi masalah Child Trafiking yang masih banyak terjadi dewasa ini bahkan di berbagai negara berkembang yang menjadi masalah serius bagi negara itu sendiri. Semakin banyaknya tingkat kelahiran dan dibarengi dengan kesulitan ekonomi yang melanda negara-negara berkembang saat ini sedikit banyak telah menyumbang akan terjadinya Child Trafiking ini. Sangat dibutuhkan sekali perhatian dari seluruh pihak baik dari pemerintah maupun dari masyarakat pada umumnya untuk mengatasi masalah ini. Tidak hanya dari pihak pemerintah yang gencar dengan undang-undang perlindungan anak, tetapi masyarakat juga harus turut mencegah terjadinya perdagangan anak dan mengantisipasi penyebanya sedini mungkin dari dalam keluarga itu sendiri. Anak pada masa perkembangan membutuhakan perhatian yang lebih dan seharusnya orang tua lebih memehami dan mengarahkan anak untuk memperoleh masa perkembanganya dengan benar sehingga tidak terjadi penyimpangan dan akhirnya mereka menjadi korban eksploitasi anak. Menekan angka kelahiran juga salah satu cara agar tidak terlalu banyak terjadi masalah perdagangan anak tersebut. Ketersediaan lapangan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Serta perwujudan UU yang nyata tentang hak-hak anak dan upaya perlindungan anak harus lebih diperhatikan bukan hanya semata-mata sebagai agenda dan wacanan yang tertera dalam peraturan saja.
    Dari perkuliahan ini kita dapat mengerti banyak tentang isu-isu atau masalah dunia yang kerap terjadi di belahan dunia, sangat berarti sekali untuk menambah wawasan dan pengetahuan kami…..terimakasih!!!

  18. 12 Juli 2011 pukul 03:38

    ..Anak-anak merupakan generasi bangsa yang akan datang, kehidupan anak-anak merupakan cermin kehidupan bangsa dan negara..
    memahami materi ini menggugah hati untuk mencetak generasi yang jauh lebih baik dan akan mendukung pembangunan yang berkelanjutan di masa yang akan datang..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: